
Yogyakarta, KerajaanNusantara.Com -- Panggih mempunyai arti bertemu. Dalam ungkapan lisan di kalangan masyarakat Jawa, kata ini lebih jamak disampaikan dengan kata kepanggih. Ungkapan ini pula yang disematkan sebagai nama salah satu prosesi Pawiwahan Ageng (pernikahan agung) GKR Hayu dan KPH Notonegoro.
Prosesi panggih dihelat oleh kedua mempelai yang hari itu menjadi “raja” dan “ratu” di Bangsal Kencana pada Selasa (22/10) sekitar pukul 10.00 WIB. Prosesi ini diawali dengan keberangkatan penganten pria, yaitu KPH Notonegoro ke Bangsal Kencana. Di sisi lain, GKR Hayu juga berangkat dari Bangsal Sekar Kedhaton menuju Bangsal Kencana.
Ketika kedua rombongan telah bertemu di Bangsal Kencana, maka dimulailah prosesi panggih yang diawali dengan bertemunya pasangan pengantin dengan posisi saling berhadapan. Prosesi awal dari panggih adalah upacara balangan gantal (melempar gulungan daun sirih). KPH Notonegoro melempar gantal terlebih dahulu dengan sasaran dahi, dada, dan lutut GKR Hayu. Selanjutnya, GKR Hayu juga membalas melempar gantal. Prosesi lempar gantal ini, mengandung makna bahwa dalam membina kehidupan rumah tangga pasti terdapat perbedaan atau silang pendapat. Namun, semua hal tersebut hendaknya diakhiri dengan penyelesaian secara baik-baik.
Prosesi berikutnya adalah mecah tigan (memecah telur). Dalam prosesi ini, telur yang telah disiapkan diinjak oleh KPH Notonegoro. Selanjutnya, GKR Hayu membasuh telapak kaki KPH Notonegoro yang tadi telah dipakai untuk menginjak telur. Prosesi ini memuat filosofi bahwa pasangan penganten ini akan memasuki kehidupan yang baru, dari yang sebelumnya belum menikah, kini telah memiliki pasangan dan mempunyai keluarga sendiri.
Prosesi membasuh telapak kaki yang dilakukan oleh GKR Hayu disebut dengan istilah wijikan. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, wijikan memiliki kata dasar wijik yang berarti cuci atau mencuci/ membersihkan. Prosesi ini menyimbolkan makna bahwa seorang istri harus berbakti kepada suami.
Usai menjalani prosesi wijikan, upacara selanjutnya adalah pondhongan. Dalam prosesi terakhir dari panggih ini, KPH Notonegoro dengan dibantu oleh GBPH Suryametaram menggendong GKR Hayu menuju pelaminan yang berada di Tratag Bangsal Kencana untuk menerima ucapan selamat dari para tamu undangan. Pondhongan memuat makna bahwa GKR Hayu adalah putri raja, sehingga harus berada pada posisi yang terhormat.
Hadir dalam prosesi panggih ini beberapa tamu penting, seperti Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta Ibu Ani Yudhoyono, Wakil Presiden Budiono beserta istri, Wakil Gubernur DIY Sri Paku Alam IX, Ketua MPR RI Sidharta Danusubroto, Menpora Roy Suryo, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa, Gubernur DKI Joko Widodo, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Abu Rizal Bakri, Surya Paloh, mantan Wapres Tri Sutrisno, Agum Gumelar, Muhammad Nuh, Akbar Tanjung, Anis Baswedan, Puan Maharani, dr. Boyke, para duta besar, tamu undangan dari United Nations Development Programme (UNDP), serta tamu-tamu lainnya. Para tamu ini mengucapkan selamat kepada pasangan penganten yang akan menempuh hidup baru.
Usai menggelar prosesi panggih dan menerima ucapan selamat dari tamu undangan. GKR Hayu dan KPH Notonegoro berjalan menuju Bangsal Purworukmi (kompleks Bangsal Kasatriyan) untuk melangsungkan prosesi tompo koyo dan dhahar klimah. Tompo koyo adalah adalah sebuah prosesi di mana seorang suami melakukan ritual pemberian nafkah kepada istri. Ritual ini disimbolkan dengan pemberian uang dan biji-bijian (koyo) dari KPH Notonegoro kepada GKR Hayu. Sedangkan prosesi dhahar klimah adalah makan dan minum (suap-suapan) antara GKR Hayu dan KPH Notonegoro. (Tunggul Tauladan/knc/03/10-2013)