Tim UI Laporkan Ekskavasi Situs Kayangan Api
Nopember 02, 2011 10:47

Situs Kayangan Api
Hasil ekskavasi terhadap situs Kayangan Api telah dilaporkan oleh Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (Tim UI) kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpad) Kabupaten Bojonegoro. Hal ini disampaikan oleh Kepala Disburpad Bojonegoro, Suismoyo yang menyatakan bahwa Tim UI tersebut telah melaporkan hasil ekskavasi dalam bentuk buku yang dilengkapi foto sejak dua hari yang lalu (30/10).
Berdasarkan hasil laporan Tim UI, Disbudpad Bojonegoro belum berani menyimpulkan apakah ekskavasi terhadap situs Kayangan Api akan dilanjutkan atau dihentikan. Kelanjutan dari nasib ekskavasi situs Kayangan Api sepenuhnya akan diserahkan kepada Bupati Bojonegoro. Oleh karena itu, kini Disbudpar Bojonegoro akan melaporkan hasil temuan tersebut kepada Bupati Bojonegoro dan menunggu petunjuk selanjutnya dari orang nomor satu di Bojonegoro tersebut.
Ekskavasi terhadap situs Kayangan Api telah dilakukan sejak 11-20 Juli 2011. Selama ekskavasi, Tim UI telah membuat 30 lubang, masing-masing berdiameter 4 M². Melalui lubang-lubang tersebut ditemukan berbagai benda arkeologis, misalnya di lubang bagian barat ditemukan lima lapis batu bata yang terdiri dari empat lapis berwana merah dan satu lapis berwarna putih. Sedangkan pada lubang di sebelah timur dan selatan batu bata yang ditemukan hanya terdiri dari dua lapis tanpa batu bata berwarna putih. Setiap batu bata kuno yang ditemukan tersebut memilki ukuran 31x19x5 Cm.
Tim UI belum memperoleh kesimpulan yang pasti terkait bentuk bangunan yang mungkin berdiri di lahan tempat ditemukannya batu bata kuno tersebut. Sebelumnya, Tim UI menduga bahwa bentuk bangunan yang pernah berdiri adalah bangunan candi kuno sebagai tempat pemujaan terhadap Dewa Api. Bahkan dugaan awal, situs Kayangan Api memiliki ikatan yang erat dengan Kerajaan Majapahit.
Dalam laporan tersebut, Tim UI menyimpulkan bahwa struktur batu bata kuno yang beberapa di antaranya memiliki hiasan lingkaran tersebut merupakan sisa sebuah bangunan. Namun, nama dan bentuk bangunan yang pernah berdiri di situs tersebut belum bisa disimpulkan. Selain itu, tim juga melaporkan bahwa selain batu bata, dalam ekskavasi juga ditemukan logam dan pecahan tembikar yang jumlah dan kualitasnya kurang memadai untuk diteliti lebih lanjut. Kesimpulan ini merupakan laporan dari tim yang diketuai oleh Dr. Ali Akbar yang beranggotakan pelapor, yaitu Dr. R. Cecep Eka Permana, Agi Ginanjar, S.S., M.Si, Dian Sulistyowati, dan Rizky Fardhyan S. M.Hum.
Seperti diberitakan sebelumnya, keberadaan situs yang berlokasi di Desa Sendangrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur ini sebenarnya telah diketahui sejak 2003. Kala itu, Kamtuwo Ikhsan, seorang perangkat desa setempat menemukan situs ini di lokasi pariwisata Kayangan Api (api abadi) di Desa Sendanghardjo. Penemuan tersebut kemudian dilaporkan kepada aparat terkait dan tempat tersebut dinamakan situs Kayangan Api sehubungan dengan lokasinya yang berada tak jauh dari obyek pariwisata Kayangan Api (api abadi). Namun, temuan tersebut baru ditindaklanjuti pada 2010 ketika dilakukan penggalian sebanyak lima lubang. Lewat penggalian tersebut, di lokasi ini ditemukan batu bata kuno. Akhirnya antara 11-20 Juli 2011, Tim UI kembali melakukan ekskavasi dengan menggali 30 lubang sebagai tindak lanjut dari ekskavasi pada 2010 silam.
Tunggul Tauladan/01/11-2011
Sumber Foto: http://oase.kompas.com