Kasunanan Surakarta Hadiningrat adalah salah satu pusat peradaban Jawa yang terbesar masih merupakan keturunan langsung dari Kesultanan Mataram Islam. Oleh karena itu, dalam sejarah perjalanan Kasunanan Surakarta Hadiningrat banyak dihasilkan karya sastra yang adiluhung. Bahkan, raja-raja yang pernah bertahta di Kasunanan Surakarta Hadiningrat banyak yang memiliki minat dan kemampuan dalam seni sastra, dengan menulis berbagai karya sastra, baik berupa serat, gendhing, maupun bentuk-bentuk karya sastra lainnya. Sebagai contoh adalah Serat Centhini yang merupakan buah karya dari Sri Susuhunan Pakubuwono V, Serat Wulang Reh yang ditulis oleh Sri Susuhunan Pakubuwono IV, dan lain sebagainya. Salah satu karya sastra terkenal yang menjadi produk budaya dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat adalah Serat Candrarini. Serat ini merupakan salah satu karya dari pujangga terbesar Surakarta, yakni Ranggawarsita.
Serat Candrarini adalah salah satu karya sastra Jawa dari abad ke-19 yang merupakan hasil karya dari Raden Ngabehi Ranggawarsita. Karya sastra ini ditulis pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono IX, tepatnya pada tahun 1860 Masehi atau tahun 1792 dalam penanggalan kalender Jawa. Serat Candrarini ditulis atas perintah Sri Susuhunan Pakubuwono IX sebagai ajaran untuk kaum perempuan dan merupakan sastra etik didaktik bagi wanita dalam lingkungan hidup berpoligami agar perkawinannya langgeng. Pada masa itu, poligami memang sedang sangat marak di lingkungan Kasunanan Surakarta Hadiningrat, di mana banyak lelaki, dari pejabat tinggi sampai rakyat biasa, menjalankan hidup berpoligami. Oleh karena itulah, Sri Susuhunan Pakubuwono IX berinisiatif dan kemudian memerintahkan pujangga istana Ranggawarsita untuk sebuah kitab ajaran bagi kaum wanita.
Serat Candrarini ditulis pada zaman absolut monarki di mana kekuasaan mutlak ada di tangan Raja. Pada waktu itu, masyarakat Jawa, khususnya warga Kasunanan Surakarta Hadiningrat, masih memegang teguh adat-istiadat lama, yaitu tata cara Jawa yang memperoleh pengaruh dari unsur-unsur ajaran Hindu dan kemudian Islam. Tentang perkawinan, poligami merupakan kebiasaan yang sudah lazim dilakukan pada masa itu. Bahkan, sebelum menikah dengan perempuan yang nantinya menjadi istri resmi, kaum bangsawan Jawa biasanya sudah punya selir. Pada zaman seperti itulah Serat Candrarini ditulis dengan tujuan sebagai pedoman agar keutuhan keluarga dapat dipertahankan. Oleh karena itu corak kesusastraan pada waktu itu tidak jauh dari situasi lingkungan atau kodrat zamannya. Watak atau karakter karya sastra pada zaman itu biasanya hanya mengutamakan kesetiaan dan darma bakti wanita kepada suami sebagai pemimpin rumah tangga.
Boleh dibilang, Serat Candrarini adalah sastra etik untuk perempuan yang berkedudukan di bawah kaum pria dalam tatanan perkawinan yang berlaku pada waktu itu. Saat itu, kodrat istri adalah sosok yang selalu mengalami kesewenang-wenangan dari kaum pria. Istri harus selalu setia dan berbakti menuruti kehendak suami. Kewajiban seorang istri adalah mengabdi dan melayani suami dengan segenap jiwa dan raga. Artinya, jiwa dan raga istri mutlak dikuasai suami sepenuhnya dan ditujukan khusus demi kemuliaan sang suami. Alam dan budaya yang menggariskan kehidupan perempuan Jawa menjadi sedemikian itulah yang diulas dalam Serat Candrarini.
Isi dari Serat Candrarini pada intinya meneladani 5 orang istri Arjuna, salah satu dari Pandawa Lima bersaudara. Arjuna memiliki 5 orang istri, di mana 3 orang istrinya berasal dari kasta ksatria, dan 2 perempuan lainnya adalah putri kaum pendeta (kasta brahmana). Kelima istri Arjuna ini adalah Dewi Wara Sumbadra, Dewi Manuhara, Dewi Ulupi, Dewi Gandawati, dan Wara Srikandhi. Kelimanya memiliki kecantikan luar dan dalam, mereka hidup rukun, damai, dan bersama-sama mengabdi kepada suami. Serat Candrarini mengajarkan bahwa kecantikan seorang wanita bukan hanya dilihat dari sisi fisiknya saja, melainkan juga semua yang terpancar dari dalam diri wanita itu. Sifat-sifat terpuji seperti rendah hati, sopan santun, welas asih, pengabdian dan perilaku yang halus, itulah sebenarnya yang perlu dimiliki oleh seorang perempuan untuk menyelamatkan dan memelihara kelanggengan kehidupan perkawinan.
Sebagai sebuah hasil karya sastra, Serat Candrarini bukan merupakan sebuah ecriture atau monumen mati. Untuk memahami isi serat ini harus melalui interpretasi (penafsiran) sehingga merupakan suatu hasil seni yang berguna dan bisa dinikmati. Sebagai karya sastra tradisional, Serat Candrarini bisa dibaca atau dinyanyikan bersama dan dinikmati oleh masyarakat. Serat Candrarini ditulis dalam bentuk Macapat yang terdiri dari beberapa jenis tembang. Masing-masing dari jenis tembang ini memiliki struktur yang berbeda dan khusus. Setiap bait terdiri dari sekian larik dan setiap larik terdiri dari sekian suku kata (guru wilangan) dengan vokal akhir (guru lagu) tertentu. Unsur-unsur lain yang perlu diperhatikan dalam pembacaan Serat Candrarini adalah diksi dan perlu diperhatikan juga tentang keindahan susunan kata-katanya.
Adapun kandungan isi Serat Candrarini secara garis besar adalah menunjukkan bagaimana cara atau sikap dan tindak tanduk seorang wanita agar terjaga kelestarian kehidupan rumah tangganya meskipun dimadu. Pada waktu itu, perempuan yang bercerai dianggap sebagai perempuan yang paling hina, dan oleh karena itu, sedapat mungkin seorang istri harus berusaha mempertahankan keutuhan rumah tangganya meskipun sang suami memutuskan untuk kawin lagi. Penjelasan mengenai hal ini terdapat pada pupuh I, bait 3, Serat Candrarini yang berbunyi:
Awit jenenging wanudya, pegat denya palakrami, nistha, nir kadarmanira, wigar denira dumadi, sami lan mangun teki, kang badhar subratanipun, punggel kaselan cipta. Artinya: Yang disebut wanita, bila ia bercerai adalah sangat hina, hilang segala keutamaannya, urung atau tidak memenuhi kodratnya sebagai wanita, seumpama orang yang bertapa, maka gagallah semedinya.
Oleh karena itu, seorang istri harus melakukan hal-hal sebagai berikut:
Demikian isi kandungan Serat Candrarini secara garis besar. Cara-cara yang termaktub dalam Serat Candrarini diturunkan kepada generasi berikutnya sebagai bekal untuk membangun rumah tangga agar lestari tanpa halangan apapun, terlaksana apa saja yang diinginkan, yakni sesuai dengan alam pikiran dan situasi zamannya.
Serat Candrarini merupakan karya sastra yang tergolong dalam kategori sastra wulang atau karya sastra etik didaktik yang menunjukkan budi pekerti dan unsur keluhuran yang tinggi. Selain itu, jika ditinjau dari sudut pandang falsafah kewanitaan, Serat Candrarini mengandung makna religius yang dalam. Sedangkan apabila dilihat dari segi sosiologi, Serat Candrarini memberikan gambaran bagaimana citra perempuan di Jawa, khususnya di wilayah Kasunanan Surakarta Hadiningrat, pada waktu itu. Artinya, bagaimana kedudukan dan kewajiban perempuan atau istri pada zaman itu, di mana dunia istri adalah di seputar rumah tangga saja. Saat itu, seorang suami adalah orang yang harus dihormati dan memiliki kekuasaan yang mutlak atas rumah tangganya. Oleh karena itu, tindakan poligami adalah hal yang tidak dapat dihindari. Sementara itu, perempuan hanya sebagai orang yang harus menepati kewajibannya dan mematuhi kodrat yang sudah menjadi kelaziman pada zaman itu, yaitu harus taat dan patuh kepada junjungannya alias kepada suaminya.
Kedudukan istri dipersamakan dengan kesaktian para dewa, yaitu sebagai kekuatan bagi sang suami. Nilai ini dicitrakan dalam karakter kelima orang istri Arjuna yang menjadi teladan dalam isi Serat Candrarini. Kelima istri Arjuna ini diperlukan dalam hidup sang suami sesuai tugas mereka sebagai seorang satria pinandhita. Kekuatan satria pinandhita itu mewujud pada sosok kelima istri Arjuna yang terdiri dari 3 putri raja dari kasta ksatria (Sumbadra, Gandawati, dan Srikandhi) yang mengutamakan watak utama, kebenaran, wiweka, dan ilmu. Sedangkan dua istri lainnya adalah putri begawan dari kasta brahmana (Ulupi dan Manuhara), yang mengutamakan ketenangan dan berolah puja di mana mereka akan selalu memayungi dan menuntun jalan hidup Arjuna, tidak dapat berpisah, selalu mengikuti kemana pun sang suami pergi.
Kelima isteri Arjuna juga dimaknai sebagai simbol tataran kemajuan jiwa Arjuna yang telah dikuasainya. Dalam satu penggalan cerita, Arjuna yang sedang bertapa tiba-tiba digoda oleh 5 bidadari yang menyamar sebagai istri-istrinya, namun ternyata Arjuna tidak tergoda. Kelima bidadari itu tidak berhasil membatalkan semedi Arjuna. Hal ini berarti bahwa Arjuna telah berhasil menguasai kelima godaan itu melalui tiap-tiap tahapan kemajuan jiwanya. Dari alam fisik, dirupakan sebagai Sumbadra yang berkarakter lugu, polos, selalu menuruti kemauan suami, tidak pernah menolak, marah atau sakit hati. Manuhara merupakan simbol alam astral, alam perasaan yang penuh kasih sayang dan simpati. Sedangkan alam mental, alam pikiran, daya cipta, dan pengertian digambarkan dalam wujud Ulupi. Istri berikutnya, Gandawati, menjadi simbol alam budi pekerti dan alam kesadaran yang agung. Gandawati memang mahir dalam segala pekerjaan wanita yang dipelajarinya dari para bidadari dan kemahirannya ini ia ajarkan kepada semua madunya sebagai bekal untuk mengabdi kepada suami. Sedangkan Srikandhi sangat suka membaca kitab-kitab ilmu pengetahuan dilambangkan sebagai alam nirwana dan alam pembebasan sejati
Serat Candrarini memang tidak relevan lagi untuk diterapkan di zaman sekarang yang sudah mengalami kemajuan di segala bidang, termasuk dalam persoalan kesetaraan jender. Oleh karena itu, Serat Candrarini hanya dapat dimengerti dengan memahami situasi dan kondisi kelaziman yang berlaku pada zaman ditulisnya karya sastra ini. Penilaian terhadap isi yang termatub dalam karya sastra ini tidak dapat dilepaskan dari keadaan masyarakat yang melahirkannya. Selain itu, untuk bisa benar-benar memahami isi Serat Candrarini, seseorang harus memiliki pengetahuan tentang kode bahasa, kode budaya, dan kode sastra Jawa. Tokoh-tokoh yang dijadikan sebagai teladan dalam serat ini adalah tokoh-tokoh wayang yang masing-masing sifat dan karaternya sudah ditentukan di dalam sastra tradisional Jawa. Oleh karena itu, teks yang termuat dalam isi Serat Candrarini ini dapat menjadi suatu model pandangan dunia, yaitu dunia Jawa.
Sejak permulaan dekade ke-2 abad ke-20, Serat Candrarini sudah diterbitkan dalam bentuk cetak, meskipun tidak semuanya dipublikasikan secara utuh. Salah satunya adalah ajaran dalam Serat Candrarini yang diterbitkan oleh Ki Padmasusastra pada 1922. Agar sedikit relevan dengan kemajuan zaman, edisi cetak Serat Candrarini sudah mengalami beberapa perubahan. Hal ini dilakukan karena pada awal abad ke-20 itu praktik poligami sudah menjadi tema yang cukup rawan dalam perjuangan kesetaraan jender. Beberapa ungkapan yang menunjukkan kodrat perempuan di zaman dibuatnya Serat Candrarini yang begitu rendahnya, diganti dengan sifat-sifat wanita yang bisa dijadikan teladan oleh sesama wanita. Dengan demikian, karya sastra tradisional ternyata juga dapat digunakan untuk memantapkan dan menyelamatkan norma serta nilai budaya yang ada di masyarakat.
Sumber:
Parwatri Wahjono, “Sastra Wulang dari Abad XIX: Serat Candrarini, Suatu Kajian Budaya”, dalam Jurnal Makara, Sosial Humaniora, Volume 8, No. 2, Agustus 2004, hlm. 71-82, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.
Sumber Foto: http://indonesiapoetry.blogspot.com