
Keraton Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat kini memasuki usia ke-264 tahun. Di usia yang telah mencapai lebih dari dua abad ini, berbagai tantangan yang harus dihadapi tampaknya tak pernah berkurang. Oleh karena itu, Keraton tak pernah selesai berbenah untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut.
Salah satu upaya Keraton dalam menyiapkan diri untuk menghadapi tantangan adalah peningkatan organisatoris dan sumber daya manusia (SDM). Peningkatan organisatoris perlu dilakukan mengingat saat ini dan ke depan, Keraton akan menghadapi tantangan seputar keistimewaan yang terwacana lewat RUUK. Salah satu cara untuk meningkatkan kesiapan adalah kembali menyusun struktur organisasi Keraton berbasis budaya.
Kesiapan dalam membangun SDM juga senantiasa dilakukan oleh Keraton. Saat ini Keraton tengah menyiapkan duta budaya lewat pawiyatan (pendidikan). Pawiyatan merupakan pendidikan untuk menjadi abdi dalem di lingkungan Keraton Kesultanan Ngayogykarta Hadiningrat. Pendidikan ini bertujuan untuk membentuk seorang abdi dalem keraton menjadi priyayi sejati yang memahami hakekat dan makna sebagai orang Yogyakarta.
Pawiyatan yang telah memasuki angkatan keenam ini telah mendidik sedikitnya 1.200 abdi dalem punokawan. Setiap angkatan dalam pawiyatan diikuti oleh 200 abdi dalem. Dalam minggu ini angkatan keenam telah selesai melakukan pendidikan, demikian dilansir dari Kedaulatan Rakyat, 3 Mei 2011.
GBPH Joyokusumo selaku Pengangeng Kawedanan Hageng Panitrapura Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, menyampaikan bahwa dalam upaya menyiapkan dan meningkatkan kualitas SDM, empat pilar dalam Keraton harus mendapatkan pendidikan. Keempat pilar tersebut adalah keluarga Sultan, kerabat, dawah dalem, dan abdi dalem. Keempat pilar ini harus paham tentang sejarah, filosofi, dan tatanan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Sikap Keraton yang tak pernah berhenti untuk berbenah merupakan salah satu cara yang dilakukan karena tantangan yang harus dihadapi semakin besar. Perubahan zaman, kebijakan, dan unsur politik turut mempengaruhi keraton sebagai pengayom masyarakat, simbol pluralisme, dan pengawal kebudayaan. Keraton sebagai sebuah ruang besar yang melindungi rakyat yang berada di bawahnya harus mampu bertranformasi dan menyiapkan diri untuk menghadapi berbagai tantangan ini.
(Tunggul Tauladan 05/05-2011)
Sumber Foto: http://www.kerajaannusantara.com/