
Perhelatan JavaJazz 2007 menjadi titik awal karena di acara inilah Achmad Ubaidillah mengutarakan niat untuk membina hubungan yang lebih serius dengan Gusti Raden Ajeng (GRAj) Nurastuti Wijareni. Tak disangka, niat itu kini menjadi nyata setelah Achmad Ubaidilah dan GRAj Nurastuti Wijareni sepakat untuk menikah pada 16-18 Oktober 2011 mendatang.
Persiapan untuk membuat Pernikahan Agung Puteri Sri Sultan Hamengkuwubono X ini telah dimulai jauh hari sebelum perhelatan akbar tersebut digelar. Salah satu di antaranya adalah pemberian gelar dari GRAj Nurastuti Wijareni menjadi Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara dan Achmad Ubaidillah menjadi Kanjeng Pangeran Harya (KPH) Yudanegara.
Selain pemberian gelar, persiapan lain untuk Pernikahan Agung ini adalah menyusun acara arak-arakan atau kirab bagi kedua mempelai. Prosesi arak-arakan ini pada dasarnya meniru tradisi pernikahan yang lazim digunakan pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono VII (HB VII), yaitu mulai Keben menuju Kepatihan. Dalam arak-arakan pada pernikahan kali ini, kedua mempelai nantinya juga akan diarak dari Keben (Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat) menuju Kepatihan (Kantor Gubernur DIY) di mana di tempat ini juga akan dilangsungkan resepsi pernikahan.
Seperti dinyatakan oleh GKR Bendara di rumah dinas GKR Hemas, Jalan Denpasar 19, Kuningan, Jakarta, Kamis (28/7) bahwa prosesi arak-arakan selain meniru tradisi pada masa pemerintahan Sultan HB VII juga mendapat inspirasi dari Royal Wedding Pangeran William dan Kate Middletone dari Kerajaan Inggris. Perpaduan antara pernikahan masa Sultan HB VII dengan Royal Wedding William-Kate adalah keduanya sama-sama melakukan prosesi arak-arakan, tetapi mempunyai sedikit perbedaan.
Perbedaan terletak pada cara arak-arakan, yaitu jika masa Sultan HB VII pengantin ditandu, tetapi pada pernikahan GKR Bendara-KPH Yudhanegara menggunakan Kereta Kyai Jongwiyat yang ditarik oleh kuda namun tidak dinaiki kusir melainkan dituntun dan didampingi oleh beberapa prajurit (bregada) Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Konsep menggunakan kereta kuda inilah yang diakui mendapat inspirasi dari Royal Wedding William-Kate.
Pernikahan GKR Bendara-KPH Yudhanegara juga memiliki konsep budaya, pariwisata, dan merakyat. Konsep budaya dilakukan dengan cara menampilkan berbagai tarian khas Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat selama resepsi berlangsung. Sedangkan untuk pariwisata, kedua mempelai telah berkoordinasi dengan berbagai hotel untuk penginapan para tamu undangan dan mempromosikan even budaya ini ke luar negeri karena kebetulan GKR Bendara juga mengambil gelar sarjana bidang pariwisata, perhotelan, dan manajemen di Swiss.
Selain konsep budaya dan pariwisata, pernikahan ini juga dikonsep merakyat. Konsep merakyat dilakukan dengan cara memberikan kesempatan seluas-luasnya pada 1.500 tamu undangan dan masyarakat umum untuk menyaksikan jalannya prosesi pernikahan hingga pemasangan layar lebar di seputaran Kota Jogjakarta. Sehingga bisa dikatakan, konsep pernikahan ini adalah pesta rakyat Jogjakarta.
Bahkan menurut kedua calon mempelai, pernikahan mereka juga dikonsep untuk meningkatkan perekonomian rakyat Jogja. Cara yang dilakukan adalah membuat konsep made in Jogjakarta dengan memesan seluruh pernak-pernik pernikahan, mulai dari undangan, souvenir, hingga pakaian pengantin dari para pengrajin dan desainer Jogjakarta.
(Tunggul Tauladan/13/07-2011)
Sumber foto: http://www.detiknews.com/
wah semoga sukses acaranya i love jogja